Pengertian Niat Shalat

Pengertian Niat Shalat

Niat menjadi satu dari beberapa rukun dalam ibadah wajib umat muslim. Semua ibadah yang wajib dilakukan oleh muslim dipengaruhi besar oleh niatnya. Bahkan niat berpengaruh besar diterima atau tidaknya dalam satu ibadah.

Sebut saja ibadah Shalat, Puasa, Haji, hingga Zakat. Semuanya di awali dengan meletakkan niat sebelum melakukannya. Indonesia adalah sebuah negara dengan berbagai paham mazhab, namun umat muslim mayoritas menganut paham syafi’i sehingga sebagian besar akan merujuk kepada pendapat mazhab tersebut.

Pengertian Niat.

Niat adalah dorongan yang ada didalam hati saat kita ingin melakukan sebuah pekerjaan. Saat kita melakukan sesuatu hal, maka hal pertama yang muncul didalam hati kita adalah sebuah keinginan melakukannya sebelum kita melakukannya. Dorongan tersebut muncul dikarenakan banyak hal, bahkan antara satu dengan yang lain faktor pendorong seseorang memiliki keinginan tersebut berbeda-beda.

Niat sendiri adalah kesuluruhan dari dorongan tersebut. Definisi niat sendiri menurut kalangan sejumlah pendapat ulama adalah: Jalaluddin As-Suyuthi menyatakan bahwa waktu niat adalah di permulaan ibadah. Sedang tempatnya di dalam hati yang bersamaan dengan perbuatan.

Niat adalah mengqasad sesuatu bersamaan dengan melakukan perbuatannya.

Mengqasad maksudnya adalah menghendaki melakukan sesuatu dengan sengaja. Sebagaimana yang sudah kita sebutkan sebelumnya sebuah dorongan keinginan untuk melakukan sesuatu yang ada didalam hati. Inilah yang dimaksud dengan qasad.

Rukun dan Pembagian Niat.

Niat jika pisahkan terbagi menjadi tiga bagian. Yakni: Qasad, Ta’yin, Taarudh. Dalam sebuah ibdah wajib maka ketiga hal tersebut dinamakan rukun dari niat, sementara niat sendiri menjadi rukun dalam sebuah ibadah.

Qasad: Sebagaimana sebelumnya adalah dorongongan untuk mengerjakan sebuah pekerjaan. Dorongan ini terdapat didalam hati sehingga sebenarnya dia tidaklah memiliki huruf dan lafazd. Namun jika kita terjemahkan kedalam bahasa lisan mungkin bermakna “Sengaja saya melakukan”. Dorongan melakukan sesuatu dengan sengaja yang ada didalam hati.

Ta’yin: Ada pun rukun kedua disebut ta’yin yakni bentuk dari perbuatan tersebut. Misalkan: Sholat subuh, Sholat dzuhur, Puasa ramadhan, Puasa senin dan kamis, atau yang lainnya. Saat didalam hati tergelitik melakukan sebuah pekerjaan atau ibadah, semisal kita ingin mengerjakan sholat subuh maka didalamnya terhimpun dua rukun, yakni: qasad dan ta’yin.

Ta’arudh: Adapun yang dimaksud dengan ta’arudh adalah penjelasan dari sebuah perbuatan tersebut. Misalkan sholat wajib, 2 rakaat, dll. Itu adalah sifat-sifat atau keterangan yang melekat pada sebuah perbuatan tersebut. Untuk shalat subuh misalkan: menyertakan keterangan sifat wajib menjadi rukun niat, sementara sebagian ulama mencukupkan sampai disitu karena jumlah rakaat itu maklum sehingga tidak wajib disertakan.

Contoh Niat Shalat.

Niat yang ada di dalam hati jika kita terjemahkan ke dalam bahasa lisan mungkin semakna dengan ” Sengaja aku mengerjakan shalat wajib subuh 2 rakaat” jika misalkan kita misalkan dalam shalat subuh.

Di sana terkumpul qasad, taarudh, dan ta’yin dalam bersamaan. Hanya saja niat letaknya di dalam hati sebagai sebuah dorongan bukan lafazd yang diucapkan atau perkataan yang ada diucapkan oleh hati. Niat bersifat dorongan paling dalam saat kita melakukan sesuatu.

Niat yang diucapkan disebut lafadz niat, namun dia bukan niat. Lafadz hanyalah sesuatu untuk membantu dalam membetulkan niat, sehingga kita benar dalam mengarahkan dorongan hati kita dalam melakukan sebuah ibadah atau pekerjaan amaliyah.

Ada qasad sebuah bentuk dorongan melakukan sebuah pekerjaan dengan sengaja, pekerjaan yang dilakukan juga jelas yakni shalat subuh(ta’yin), dan sifat atau keterangannya dari pekerjaan nya juga jelas yakni wajib (ta’arudh) 2 rakat.

Apakah menyertakan keterangan lain termasuk rukun niat?

Keterangan lain disini maksudnya, seperti keterangan menghadap kiblat, menjadi makmum/imam atau sendirian, dll. Pada dasarnya menyertakan hal tersebut tidak termasuk dalam rukun niat dalam shalat wajib, namun memiliki konsekuensi dalam perbuatan. Misalkan saat anda sholat berjamaah, namun tidak menyertakan sebagai makmun dalam niat maka sholat anda sah namun tidak dihitung berjamaah. Atau misalkan anda menambahkan detail mengikut imam si fulan bin fulan, maka jika imamnya bukan si fulan bin fulan maka sholat anda dihitung sendirian.

Lafadz Niat Shalat.

Subuh:

اُصَلّى فَرْضَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Dzuhur:

اُصَلّى فَرْضَ الظُّهْرِاَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Ashar:

اُصَلّى فَرْضَ الْعَصْرِاَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Magrib:

اُصَلّى فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Isya:

اُصَلّى فَرْضَ الْعِشَاءِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Untuk shalat subuh: Usholli fardhas subhi rak’ataini mustaqbilal qiblati ada’an ma’muman lillahi ta;ala. (artinya: Sengaja aku melakukan shalat fardhu subuh, dua rakaat, menghadap kiblat, tunai, karena Allah ta’ala).

Untuk shalat dzuhur: Usholli fardhadz dzuhri arba’a raka’atim mustaqbilal qiblati ada’an ma’muman lillahi ta;ala. (artinya: Sengaja aku melakukan shalat fardhu dzuhur, empat rakaat, menghadap kiblat, tunai, karena Allah ta’ala).

Untuk shalat ashar: Usholli fardhal ‘ashri arba’a raka’atim mustaqbilal qiblati ada’an ma’muman lillahi ta;ala. (artinya: Sengaja aku melakukan shalat fardhu ‘ashar, empat rakaat, menghadap kiblat, tunai, karena Allah ta’ala).

Untuk shalat magrib: Usholli fardhal magribi tsalaatsa raka’atim mustaqbilal qiblati ada’an ma’muman lillahi ta;ala. (artinya: Sengaja aku melakukan shalat fardhu magrib, tiga rakaat, menghadap kiblat, tunai, karena Allah ta’ala).

Untuk shalat isya: Usholli fardhal isya’i arba’a raka’atim mustaqbilal qiblati ada’an ma’muman lillahi ta;ala. (artinya: Sengaja aku melakukan shalat fardhu isya, empat rakaat, menghadap kiblat, tunai, karena Allah ta’ala).

Diterbitkan oleh Ais elkirami

Ais elkirami adalah seorang blogger yang perduli dengan nilai-nilai sosial sebuah kehidupan masyarakat. Konsisten dalam menulis, dan siap belajar dari siapa pun. | www.elkiram.my.id